Senin, 29 Desember 2008

Refleksi Gerakan Mahasiswa


Sebagai sebuah kesatuan yang kompleks, mahasiswa lebih dianggap sebagai sebuah gerakan intelektual pemerhati rakyat yang betul-betul menanggapi pemerintah secara kritis. Masyarakat pun menjadi simpati terhadap mahasiswa, bahkan ada yang mengatakan ‘suara mahasiswa adalah suara rakyat’. Mahasiswa sangat merespon apa yang menjadi tuntutan rakyat kepada pemerintah, dan mampu merealisasikannya untuk hal positif demi perubahan yang dicita-citakan rakyat. Hal ini menjadi gambaran umum mahasiswa di mata masyarakat. Jika kita menengok kembali sejarah di masa silam. Sejak memperebutkan kemerdekaan Indonesia, mahasiswa telah menjadi sebuah komunitas yang berpengaruh bagi proklamasi Republik Indonesia. Setelah itu pergerakan mahasiswa kembali mengambil bagian dalam penumpasan para PKI . Dan yang membuat gerakan mahasiswa semakin fenomenal adalah usaha keras mereka dalam melengserkan soeharto dari singasana kepresidenannya, bahkan tidak sedikit mahasiswa yang gugur di tengah perjuangan mereka. Dan berkat aksi gerakan moral itu, kebebasan berdemokrasi kini telah terbuka lebar. Dalam beberapa perubahan signifikan yang dialami bangsa ini, mahasiswa telah berperan sangat penting, wajar jika ini menjadikan mahasiswa berfungsi sebagai agent of change. Hal ini mengundang dukungan luas dari berbagai pihak terhadap gerakan intelektual ini. Generasi mahasiswa selanjutnya pada zaman reformasi tetap turut berinteraksi dalam hingar bingar sistem pemerintahan yang demokratis. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan untuk mengutarakan berbagai wacana publik dengan melakukan unjuk rasa. Dengan mudahnya para mahasiswa berorasi sambil membawa spanduk dengan mengatas namakan rakyat. Arus demokrasi yang dulunya tertahan oleh bendungan otorisasi kini telah mengalir begitu deras. Tidak ada lagi yang mampu menahannya, kebebasan untuk mengeluarkan pendapat kini tidak ada lagi yang mengekang. Sistem demokrasi yang kini dianut oleh bangsa Indonesia ini digunakan mahasiswa sebagai ajang untuk menghujat berbagai isu yang berkembang di kalangan masyarakat, dan menyampaikan tuntutan rakyat kepada pemerintah secara faktual dan realistis. Ditambah dari berbagai masalah sosial yang timbul di kalangan bawah, mahasiswalah yang paling reaktif dan sangat merespon terhadap problematika yang dihadapi masyarakat. Tapi, apakah dengan demikian masalah di negara ini telah tuntas? Tentu tidak, memang yang terlintas di benak kita bahwa mahasiswa seolah-olah pahlawan bagi masyarakat bawah. Gerakan mahasiswa lah yang lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik panggung politik pemerintahan Indonesia. Namun, hal itu justru menimbulkan masalah baru. Banyak yang menghujat pemerintah namun tidak sedikit pula yang salah kiprah dalam pengaplikasiannya. Akhir-akhir ini sering terdengar berita tentang berbagai unjuk rasa yang berujung bentrok antara mahasiswa dengan polisi. Secara objektif, tindakan kekerasan yang mengatas namakan apa pun tetap dianggap jauh dari yang namanya intelektualitas. Jika mulanya bertujuan untuk menolak kenaikan tarif BBM, entah kenapa aksi pembakaran mobil dan perobohan pagar gedung MPR/DPR-RI tiba-tiba lebih mendominasi aksi unjuk rasa para mahasiswa tersebut. Justru demo itu sepertinya tidak mengusung isu yang semestinya mereka utarakan. Jika tujuan gerakan mahasiswa yang seperti ini adalah untuk menyampaikan aspirasi rakyat ke telinga para petinggi negara, maka ini merupakan tindakan yang sangat jauh dari cerminan mahasiswa itu sendiri. Jika melakukan demo yang berujung anarkis, itu sama saja dengan tindakan para preman pasar yang tidak terdidik. Seperti inikah mahasiswa saat ini? Kemanakah intelektualitas itu? Masih pantaskah mereka dikatakan sebagai gerakan moral? Ketika mayarakat mengeluhkan kenaikan harga BBM, para mahasiswa pendemo seenaknya memblokade jalan sambil merusak pembatas jalan tol, kemudian melakukan aksi membakar ban, bahkan satu buah mobil dinas milik Kementrian Ristek turut terseret menjadi korban pembakaran aksi demo mahasiswa. Jika aksi seperti ini merupakan simbolisasi dari penolakan kenaikan tarif BBM, bukannya hal tersebut justru lebih terkesan seperti membuang-buang bahan bakar begitu saja untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Ironis sekali bukan? Jika para mahasiswa pendemo tersebut mengatas namakan rakyat, semestinya unjuk rasa itu tetap berjalan dengan tidak menghambat ketertiban umum. Justru dengan memblokade jalan mereka telah membuat jalan-jalan menjadi macet total, bagaimana keadaan para sopir angkot yang harus kejar setoran jika jalanan macet, belum dampak lainnya. Misalnya saja, aksi pengrusakan pagar jalan tol dan fasilitas umum lainnya yang pembuatannya diambil dari dana pajak yang dibayar oleh masyarakat, justru itu semakin merugikan rakyat. Tentu saja rasa simpati rakyat semakin berkurang, meskipun kejadian ini hanyalah didalangi oleh beberapa oknum mahasiswa tertentu. Tapi, tetap saja yang namanya mahasiswa harus mencerminkan sikap intelektualitas dan berbudi pekerti. Bukan seperti satwa liar yang terlepas dari kebun binatang. Di sisi lain, memang para mahasiswa pendemo tersebut pada dasarnya betujuan mulia. Hanya karena tuntutan mereka tidak digubris oleh pihak pemerintah, maka timbullah aksi anarkis itu. Jadi kita pun harus bersikap bijak, kita tidak bisa menyalahkan mahasiswa sepenuhnya. Kalau saja pemerintah tanggap terhadap wacana yang mereka utarakan, dan meresponnya dengan sikap yang benar. Mungkin tindakan anarkis itu tidak akan terjadi, misalnya saja dengan mengadakan forum terbuka atau dengan berbagai alternatif lain yang masih bisa dilakukan. Tentunya itu akan menimbulkan kesan keterbukaannya pihak pemerintah yang semestinya menjadi sikap pemerintah di era reformasi seperti sekarang ini. Demokrasi pun berjalan dengan sehat, tanpa harus ada pihak yang dirugikan. Jadi, kita harus mengambil pelajaran dari semua yang telah terjadi. Tentunya ini pula menjadi bahan renungan para mahasiswa sebagai aktor intelektualitas yang berkiprah di dunia masyarakat juga pemerintah yang seharusnya lebih bersikap antusias terhadap keluhan-keluhan rakyat. Lantas, apakah Indonesia benar-benar telah reformasi? Jika sistem demokrasi yang dijalankan Indonesia saat ini justru memicu kerusuhan yang berakhir dengan tindakan anarkis dan menimbulkan banyak kerugian, maka bisa dikatakan Indonesia belum siap untuk berdemokrasi.